Gamelan Pakurmatan

Jumlah instrument yang lengkap berjumlah 18 unit disebut Gamelan Ageng. Gamelan Agen terdiri dari Seperangkat atau satu pangkon berlaras Slendro dan satu pangkon berlaras Pelog.

Kelompok gamelan lama mempunyai fungsi yang sangat spesifik disebut Gamelan Pakumartan. Kelompok Gamelan Pakurmatan adalah Gamelan Sekaten berlaras pelog, Gamelan Munggang berlaras slendro dan Gamelan Kodhok Ngorek berlaras pelog. Gamelan Pakurmatan dimiliki Kraton dan beberapa lembaga pendidikan untuk kepentingan latihan.

Kelompok gamelan sederhana antara lain gamelan Gadhon, terdiri dari beberapa jenis instrument tertentu berlaras slendro dan atau pelog, yaitu :

– Kendhang.

 

 

 

 

 

 

 

– Gong.

 

 

 

 

 

 

 

– gender panembung.

 

 

 

 

 

– gender barung.

 

 

 

 

– Rebab.

 

 

 

 

 

 

– Gambang.

 

 

 

 

 

 

 

– Suling.

 

 

 

 

 

 

– Siter.

 

 

 

 

 

 

– Kethuk kenong renteng.

 

 

 

 

 

 

– Kemodhong.

Sedangkan kelompok gamelan lain yang sangat sedarhana, yaitu gamelan cokekan yang berlaras slendro dan atau pelog, yaitu :

– Kendhang.

– Siter.

– gong kemodhong.

Gamelan dapat dibuat dari bahan timah putih (Sn) dan tembaga (Cu) dengan perbandingan Sn : Cu : 10º., Juga dapat dibuat dari bahan kuningan, singen atau besi.

Karawitan

Musik tradisional Jawa atau gamelan dimainkan oleh sekelompok orang yang disebut ‘wiyogo’. Musik ini dimainkan dengan diiringi penyanyi wanita disebut ‘waranggono’ dan penyanyi pria yang disebut ‘wiraswara’. Musik ini disebut juga ‘uyon-uyon’ yang terdiri dari bermacam-macam lagu. Saat instrumen gamelan dimainkan tanpa penyanyi disebut ‘soran’

Istilah istilah dalam gamelan dan karawitan

Ada-ada. Bentuk lagu dari seorang dhalang, umumnya digunakan dalam menggambarkan suasana yang tegang atau marah, hanya diiringi dengan gender.

Adangiyah. Nama dari jenis lagu rebab yang pada umumnya digunakan untuk buka terutama dalam gendhing-gendhing yang terlaras Pelog lima, nem, dan barang yang menggunakan lagu dengan notasi untuk Pelog lima 3 ….2165, untuk pelog nem 6 …..3216, dan Pelog barang dengan 2… 7 2 7 6 5, masing –masing dilagukan dua kali disambung lagunya.

Adeg. Kedua telapak kaki secara datar menapak lantai, dengan tidak ada kelanjutan tari.

Alok. Suara orang (biasanya pria) dengan nada bebas tetapi sudah tertentu penempatannya dimasukan di dalam lagu gendhing. Hake, lo lo lo, huak, dan lain-lain.

Ambah-ambahan. Tempat berpijaknya suatu nada dalam suatu lagu atau gendhing. Contoh amabah-ambah rebab, sindhen, berkisar pada nada gedhe.

Anawengi. Alat untuk mengangkut gamelan dengan cara dipikul oleh 2 sampai 4 orang. Ancak ini dibuat dari papan kayu berbentuk persegi panjang dengan diberi tali untuk mengkaitkan alat pemikul.

Ancak. Alat untuk mengangkut gamelan dengan cara dipikul oleh 2 sampai 4 oarng. Ancak ini dibuat dari papan kayu berbentuk persegi panjang dengan diberi tali untuk mengkaitkan alat pemikul.

Ancer. Semacam titik yang terletak di bagian atas pencu. Ancer sesungguhnya bekas tempat jarum bubut, karena untuk menghaluskan kenong atau bonang atau kempul biasanya dengan jalan dibubut.

Anggong. Orang yang bertugas mengatur gamelan bila sedang diadakan pertunjukan.

Angkatan. Permulaan atau awal dari suatu bentuk lagu. Misalnya angkatan lagu atau tembang Pocung dimulai dari nada tiga, umumnya untuk sebutan di dalam vokal.

Ayak-ayakan. Suatu bentuk gendhing dimana jumlah kenongan, kempul, serta gong tidak tertentu. Pada umumnya sebelum akhir gendhing tidak menggunakan gong ajeg.

Ayun-ayun.

Sejenis Wulang Sunu diciptakan oleh Kiai Abdulaan dari desa Grabag ( daerah Temanggung ). Perunjukan Ayun –ayun yang dipentingkan adalah pembacaan – pembaaan selawat Nabi dalam bentuk tembang. Gerak tarinya dengan posisi duduk, dan hanya kepala yang digerakan serta badan meliuk-liuk saja,.

Nama gendhing, biasanya laras pelog, yang digunakan untuk mengiring tari Golek Ayun-ayun, diciptakan oleh Sasminta Mardawa dari Yogyakarta.

Balunganing Gendhing. Kerangka dari suatu gendhing dan meliputi wilayah nada-nada gendhing sedang dimainkan.

Bantalan. Benang yang dibalut dengan kain sebesar ibu jari digunakan sebagai alas bilahan gambang. Ada kalanya bahan ini berupa ijuk yang dibalut kain.

Bapangan. Instrumen gamelan jenis pencon tetapi yang dibuat mengkilat yaitu dengan cara dikikir pada bagian pencurai dan recep.

Barang. Nama nada di dalam gamelan. Untuk pencatatannya bisa diganti dengan angka 1 untuk laras slendro dan 7 untuk laras pelog.

Barang Miring. Nama larsa gamelan di mana laras bakunya slendro, tetapi pada vokal atau suara rebab dicampur dengan laras-laras vokal pelog.

Bawa Swara. Suatu teknik tembang yang dipergunakan untuk memulai atau mengawali satu gendhing yang pada umumnya dilakukan oleh seorang pria.

Bem. nada gamelan pelog dengan nada angka satu, istilah umum di daerah Yogyakarta.

Bendha. tabuh (alat pemukul ) gender dan gambang. Bendhe. nama instrumen bentuknya seperti kempul tetapi kecil.

Besalen. Tempat membuat gamelan yang didalamnya terdapat tungku untuk alat pengecor gangsa yaitu bahan baku dari gamelan perunggu (campuran dari tembaga dan timah putih )

Bliu Tau. Cara belajar memainkan salah atu instrumen gamelan misalnya rebab tetapi tanpa metode yang benar, umumnya hanya dengan mendengarkan kemudian menirukan.

Blimbingan. Bentuk bilahan atau batang saron, gender yang berpenampang trapesium. Selain tersebut di atas ada juga bonang, kenang japan yang bersegi banyak seperti gamelan pelog RII Yogyakarta yang berasal dari zaman Sultan Hamengkubuwono VIII.

Blumbangan. Bentuk warangka yang pada bagian tertentu melengkung. Bagian itu dinamakan blumbangan karena seperti blumbangan (kolam).

Bonang. Instrumen jenis pencon yang disusun horisontal terdiri dua deret yang diletakkan di atas tali pluntur yang direntangkan pada rancakan. Untuk Yogyakarta masing-masing deretan jum,lahnya 5. Jumlah seluruhnya 10 pencu. Untuk laras Pelog jumlah seluruhnya 14 pencu.

Bonangan.

Teknik di dalamnya cara memainkan instrumen bonang.

Bentuk jenis gendhing di mana yang memegang peranan adalah instrumen bonang. Misalnya dalam hal memulai gendhing. dalam jenis gendhing bonangan ini tidak menggunakan instrumen rebab, gender, gambang. Untuk daerah Yogyakarat digunakan istilah soran.

Barung Bonang. Bonang yang bertugas memimpin melodi dalam lagu atau gendhing.

Panembung, Bonang. jenis bonang yang nadanya paling rendah dan bentuknya paling besar di antara bonang-bonang lainnya.

Penerus, Bonang. Jenis bonang yang bentuknya paling kecil dan nadanya paling tinggi diantara bonang-bonang lainnya.

Bubaran. Bentuk gendhing yang terdiri dari 16 balungan pokok dalam satu gong. Tiap empat balungan poko disertai pukulan kenong, balungan pokok yang ke-6,10 dan 14 disertai pukulan kempul, sedangkan pada balungan pokok yang gasal disertai pukulan kethuk 7 5 7 6 7 5 7 6 7 5 7 6 3 5 6 7 balungan pokok.

Buka. lagu yang dibunyikan untuk mengawali dan sebagai tanda dimainkan suatu gendhing. Instrumen yang biasa dipakai untuk buka ialah gender, rebab,bonang dan kendhang.

Bumbungan. Bumbungan bambu atau seng yang dibentuk bulat mirip tabung dengan tinggi sekitar 60 cm, yang dipasang berderet urut dari yang besar sampai yang kecil yang dipasang di dalam rancakan gender sebagai resonator. Jumlah bumbungan ini sesuai dengan banyaknya bilahan gender, slenthem. Untuk gender umumnya berjumlah 13 sampai 14 buah.

Buntar. Bagian punggung dari bilahan pada saron, gender, slenthem dan yang lain berbentuk bilahan. Bagian buntar ini tempat mengkikir bilah-bilah itu sedang dilaras.

Cakepan. Kalimat yang dipergunakan oleh Vokalis di dalam suatui lagu atau gendhing umumnya berupa bentuk tembang, mungkin juga ciptaan baru yang bentuknya bukan dari tembang, misalnya di dalam suatu gendhing yang sudah ada tetapi diciptakan lagu dengan cakepannya.

Cakilan Rebab. Semacam paku dari kayu yang menancap pada bagian bawah dari rebab pada popor ngisor sebagai tempat mengkaitkan dawai.

Calung. Instrumen gamelan yang dibuat dari bambu yang direntangkan berjajar dengan tali pada bagian atas dan bawah dari yang kecil sampai yang besar. Suara calung ini mirip dengan gambang dan sangat terkenal di daerah Banyumas.

Cemengan. Bentuk pencon di mana semua bagian tidak dikikir sehingga warnanya tetap hitam. Bentuk cemengan ini umumnya pada instrumen jenis gong ageng atau gong suwukan.

Centhe. Nama instrumen saron yang paling kecil nadanya, umumnya untuk menyebut jenis gamelan barut Istilah ini umumnya digunakan di pedesaan.

Clempung. Nama instrumen golongan instrumen petik.

Cluring. Nama instrumen yang bentuknya seperti mangkuk yang diletakkan di atas rancakan

Cokekan. Susunan instrumen gamelan yang terdiri dari siter, slenthem, kendhang batangan, gong kemodhong. Cokekan ini umumnya dimainkan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Di Yogyakarta disebut gembrotan.

Coklekan. Gerak tekukan kepala ke samping kiri atau kanan pada tari gaya Yogyakarta.

Congklang. gerak tari pada tari kuda kepang mirip dengan gerak drap (lihat drap), tetapi kakinya lurus tidak ditekuk, iramanya agak pelan daripada drap.

Dados. Suatu gendhing yang beralih ke gendhing lain dengan bentuk yang sama, misalnya Ladrang Sembawa dados Ladrang Playon.

Daga. Bagian di atas watangan yang berbentuk bulat kerucut dan berkerat-kerat, di bagian atas dan bawah terdapat lubang tempat masuknya semat (kupingan) suara untuk masing-masing dawai.

Dhawah. Sejenis gendhing yang berbunyi karena bawa

Dhendha. Tabuh (alat pemukul) kempul, gong dan bendhe.

Dhendhan. Kayu bulat yang terletak pada kanan dan kiri bagian atas rancakan gender dimana ada lubang untuk memasukkan pluntur sebagai tali untuk merentangkan bilahan gender. Dhendhan ini merupakan alat pengencang pluntur. Di daerah Yogyakarta ada yang mirip bentuk nisan (dhendhan kijingan).

Dhendhan Kijingan. Sama dengan dhendhan umumnya digunakan di daerah Yogyakarta ada yang mirip bentuk nisan.

Dhodhog. Nama instrumen bentuknya seperti bedhug , tetapi yang ditutup dengan kulit hanya satu sisi saja, sehingga sisi yang lain tetap terbuka. Dhodhog sering pula disebut drodhog atau jedhor.

Dhong-Dhing. Di dalam irama gamelan terdapat sabetan matra, dimana pada hitungan pertama jatuh pada sabetan matra yang ringan disebut jatuh dhing, dan pada jatuhnya sabetan matra yang berat (kedua) disebut jatuh pada dhong.

Dhong Gedhe. Susunan notasi dari gamelan selalu terdiri dari empat deretan nada yang disebut satu gatra. Pada hitungan kedua disebut jatuh pada dhong cilik, dan pada hitungan ke empat disebut jatuh pada dhong gedhe.

Dijuluk. Cara untuk menaikkan nada pada gamelan. UIntuk jenis bilahan dengan cara pada bagian buntar dikikir sedikit demi sedikit sehingga nada yang dikendaki, sedang untuk instrumen jenis pencon yang dikikir adalah bagian pencu, dan untuk jenis gong dengan cara pencu bagian dalam didhedheg.

Gambang. Nama instrumen, bentuknya bilahan dan dibuat dari kayu. Gambang mempunyai 21 bilahan dengan 5 nada yang terdiri dari 5 oktaf, yaitu 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5.

Gambang Kayu. Instrumen gamelan dengan bilah-bilah dari kayu yang jumlahnya 17 sampai 21 bilah, mirip dengan cyclophone pada musik barat. Bilah-bilah itu diletakkan di atas grobogan, dengan diberi paku sebagai pengencangnya. Di dalam gamelan gambang merupakan instrumen yang paling banyak mempunyai nada-nada. Bilah gambang yang baik dibuat dari jenis kayu selangking barlean, kalanggi dan gembuk. Gambang dipukul dengan dua buah alat pemukul yang berbentuk bundar dengan tangkai pemegang dari tanduk kerbau yang dikecilkan sehingga dapat meluntur.

Gamelan Barut. Jenis gamelan yangbahannya dibuat dari besi, umumnya dari besi plat untuk saron dan gong dibuat dari drim bekas tempat minyak tanah.

Gamelan Gadhon. Susunan instrumen gamelan yang dimainkan secara tidak lengkap, instrumennya terdiri dari kendhang, ciblon, gender, barung, rebab, gambang dan gong kemodhong, ada kalanya memakai suling.

Gamelan Gedhe. Susunan gamelan yang lengkap. Istilah ini pada umumnya untuk menyebut gamelan yang dibuat dari perunggu. Gamelan gedhe ini terdiri dari dua laras, slendro dan pelog.

Gamelan Klenengan. Sama dengan susunan gamelan gedhe.

Gamelan Krumpyung. Seperangkat gamelan yang semua instrumennya dibuat dari bambu. Gamelan macam ini banyak ditemukan di daerah Wates Yogyakarta.

Gamelan Kuningan. Jenis gamelan yang bahannya dibuat dari kuningan, umumnya dari pipa kuningan beksa yang tebalnya ¼ cm.

Gamelan Senggaden. Jenis gamelan yang berbentuk kecil-kecil, kenong, kempul, gong, bonang semuanya direnteng ini sama dengan laras gamelan gendho. Karena bentuknya yang ringkas, gamelan ini dapat dimasukkan ke dalam kotak.

Gamelan Wayangan. Seperangkat gamelan yang digunakan untuk mengiringi wayang kulit purwa dan wayang gedhog. Untuk iringan wayang kulit purwa menggunakan gamelan laras slendro, sedangkan wayang gedhog menggunakan iringan gamelan pelog. Dahulu susunan instrumen pengiring wayang purwa terdiri dari sebuah rebab, satu kedhang wayangan, slenthem, suling, kethuk, 3 buah kenong, 3 buah kempul, 1 buah gong suwukan, 1 buah gong ageng, 1 demung, 1 saron penacah dengan bilah sembilan dan 1 buah peking kecer.

Gangsa. bahasa halus (krama) dari gamelan. Istilah ini diambil dari kata tembaga dan rejasa yang disingkat menjadi ga dan sa, kemudian berubah menjadi gangsa, karena bahan pokok dari gamelan itu berhasil dari campuran tembaga dan rejasa (timah putih), dengan perbandingan 3 dan 10 (tiga lan sedasa).

Gangsaran. Bentuk gendhing yang terdiri dari 8 balungan pokok dalam satu gong. Tiap 2 balungan pokok disertai pukulan kenong, pukulan kempul 2 2 2 2 2 2 2 2 balungan pokok. N p n p n p n p n/G pukulan kenong (n), kempul (p) dan gong (G).

Garap. Tehnik memainkan melodi gender dan rebab, di dalam suatu gendhing tertentu dengan cara yang ebnar. Di dalamnya artinya yang luas ialah cara memainkan suatu bentuk lagu atau gendhing dengan yang betul dan telah ditentukan.

Gatra.

Kelompok tiap-tiap empat lagu pokok atau balungan.

Baris dalam tembang Jawa yang tertentu jumlah suku katanya.

Gawang Dhalang. Beberapa penabuh gamelan yang dibawa oleh dhalang dari groupnya sendiri. Biasanya pemain kendhang, gender, dan sering juga pemain rebab. hal ini penting bagi seorang dhalang, karena pemain-pemain tersebut umumnya sudah mengetahui kebiasaan dari dhalang itu bila sedang mendalang, sehingga pertunjukan wayang itu dapat berjalan dengan lancar.

Gayor. Kayu bulat dengan garis tengah kurang lebih 12 cm, panjang kira-kira 2 1/2 m diberi 2 buah kaki tempat menggantungkan kempul dan gong. Bentuk gayor ada yang polos, yaitu tanpa hiasan dan bentuk nagan dengan ukiran dua ekor naga. Disamping itu ada pula gayor dengan hiasan lung-lungan.

Gembyung. Memukul 2 buah nada yang melampaui 3 bilah dari nada yang bersangkutan terhadap accordnya sehingga menimbulkan paduan suara yang enak didengar. Contoh 2-6 : 6/2.

Gender. Instrumen gamelan yang berbentuk bilahan yang direntengkan dengan tali pluntur pada rancakan berjumlah 13 ada yang 14 bilah, di bawah tiap bilah diberi tabung dari bambu atau seng sebagai alat resonator. Gender dipukuldengan dua buah pemukul yang berbentuk bulat bertangkai, dan bulatan itu dibalut dengan kain. Di daerah Yogyakarta disebut barung.

Genderan.

Susunan instrumen gamelan yang terdiri dari gender barung, penerus, gambang, kndhang, gong kemodhong dan suling.

Tehnik memainkan gender.

Gender Barung. Nama instrumen, seringkali hanya disebut dengan gender. Gender barung mempunyai 14 bilahan dengan nada yang terdiri dari 4 oktaf. 6 1 2 3 5 6 1 2 3 5 6 1 2 3

Gender Panembung. Instrumen yang mempunyai 6 bilahan untuk laras slendro dan 7 bilahan untuk laras pelog, dengan nada yang beroktaf rendah.

Gender Penerus. Sama dengan gender, hanya bentuknya lebih kecil dan cara memukulnya merupakan kelipatan dari pukulan gender. Di dalam suatu permainan gendhing, gender penerus ini sangat penting karena selain mengisi variasi-variasi, juga menunjukkan nada yang akan dipukul berikutnya.

Gendhing.

Lagu dalam gamelan Jawa.

Tukang membuat gamelan. Dahulu di dalam Kraton terdapat sekelompok orang atau pembuat gamelan yang dinamakan abdi dalem gendhing.

Gendhing Bedhayan. Gendhing-gendhing yang biasa untuk mengiringi tari bedhaya dan biasa untuk mengiri tari bedhaya dan srimpi. Pada umumnya menggunakan irama agak cepat. ( Wirama tanggung).

Gendhing Beksan. Jenis gendhing yang biasa digunakan sebagai iringan suatu tarian, kecuali tari bedhaya dan srimpi.

Gendhing Bonang. Bentuk gendhing itu jenia gendhing yang dimuali dengan pembukaan dari bonag dibunyikan dengan tidak diikuti oleh rebab, gender, gambang, gender penerus, sister atau clempung dan seruling. Biasanya dibunyikan pada persegi atau sore hari, dalam bentuk gendhing ini instrument boning dominant sekali.

Gendhing Gender. Bentuk gendhing di mana bukanya dimulai dari gender.

Gendhing Jejer. Gendhing yang dipergunakan di dalam mengiringi adegan pertama dalam pertunjukan wayang.

Gendhing Kepalan. Gendhing yang dipergunakan untuk mengiringi adegan prajurit berangkat ke medang perang dengan naik kuda. Umumnya menggunakan bentuk gendhing lancaran.

Gendhing Kedhatonan. Gendhing yang dipergunakan sebagai iringan di dalam adegan dalam keratin di mana raja berjumpa dengan permaisurinya.

Gendhing Sabrangan. Gendhing yang dipergunakan sebagai iringan di dalam adegan raja seberang (sabrangan), merupakan adegan sesudah kapalan.

Gendhing Wayangan. Gendhing yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang kulit.

Gilapan. Jenis instrument bentuk pencon dimana semua dikikir sehingga mengkilat. Gamelan yang bagian penconnya dibuat gilapan ini harus dibuat tebal sekali sehingga bila dikikir tidak menjadi tipis.

Gong. Instrumen yang bentuknya seperti kempul tetapi lebih besar. Gong biasanya bergaris tengah ± 90 cm. Gong biasa pula disebut dengan mundha atau mahasara.

Gong Bumbung. Gong yang dibuat dari bamboo terdiri dari buah bamboo dengan ukuran besar dan kecil. Bambu yang besar salah satu ruasnya dibuka, bamboo yang kecil kedua ruasnya terbuka dan dimasukkan ke dalam bambu yang besar. Cara memainkan dengan ditiup.

Gong Kemandha. Instrumen yang bentuknya seperti slentehm tetapi hanya dua bilah, sebagai resonator biasanya digunakan klenthing.

Grambyangan. Sasmita atau tanda yang menunjukan pathet dengan membunyikan nada-nada pokok. Biasanya dimulai dari kempyung atas samapai pada nada dasar.

Gregel. Nada yang pindah ke nada yang lain dengan gerakan cepat maju mundur. Gregel akan dapat merambah sedapnya cengkok dan luk seperti aroma di dalam makanan dan minuman.

Grobogan. Tempat untuk meletakan bilah-bilah gambang, dibuat dari kayu yang berbentuk empat persegi panjang di mana pada bagian kiri dari duduknya si pemukul lebih lebar dari sisi sebelah kanan. Tiap bilah diberi paku sebagai alat pengencang. Kotak itu menurut alat resonatornya.

Gulu.

Penari nomor 5 pada lajur tengah dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta. Penari ini juga disebut dengan bahasa Jawa Krama (tinggi, halus) jangga.

Nama nada di dalam gamelan. Untuk pencatatannya biasa diganti dengan angka 2 untuk laras slendro dan laras pelog.

Harjasubrata. Ahli karawitan kelahiran Yogyakarta yang telah banyak mencipta gendhing-gendhing (lagu-lagu) Jawa baru serta permainan kanak-kanak. Ia pernah menjabat direktur Konservatori Tari Indonesia di Yogyakarta sejak tahun 1961 samai 1973. Ia pernah pula menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI karena jasa-jasanya dalam bidang karawitan.

Imbal. Variasi pukulan yang selang-seling. Instrumen yang biasa untuk permainan imbal ialah bonang, demung dan saron.

Suling, zamang. Rotan atau bamboo yang dibelah tipis dibuat semacam cincin yang digunakan untuk penutup lubang suling bagian atas agar bila ditiup, udara dapat langsung masuk ke lubang bagian atas sehingga dapat berbunyi.

Jangga.

Nama jenis kendhangan, satu bait terdiri dari 32 pukulan saron satu, 4 kali kethuk, gaya Yogyakarta.

Nama nada dua dari urutan nada-nada gamelan Jawa.

Jemblung. Suara gamelan dibawakan dengan mulut, di mana para pemainnya masing-masing bertugas menentukan suara dari instrument gamelan, umumnya terdiri dari lima sampai sepuluh orang. Jemblung ini salah satu kesenian rakyat yang terkenal di Banyumas.

Jendra. Dawai rebab dengan laras nada dua atau jangga, dawai yang sebelah kiri dari. pemain rebab. Bila memainkan gendhing yang berpathet lima maka dawai jendra ini dilaras dengan nada atau panunggul.

Nglaras. Menyetem, memberi nada tertentu pada bilangan atau jenis pencon, menyamakan anda pada gamelan. Dengan cara dilaras ini gamelan menjadi enak didengarkan sehingga tidak terdengar sumbang (blero).

Ngukel. Tehnik memainkan melodi gender atau gambang pada tangan kiri dengan gerakan mirip membuat lingkaran. Misalnya memukul nada 6 1 2 1 berulang-ulang.

Nguthik. Variasi permainan bonang supaya bisa runtut.

Nguyu-uyu. Memukul gamelan dengan gendhing-gendhing bonang tanpa disertai instrumen muka (gender, rebab dan pesindhen). Dahulu sebelum upacara pangih temanten, apabila didalam peralatan itu memakai gamelan, maka pada waktu pagi hari telah dibunyikan gending nguyu-uyu.

Nitir.

Tehnik memainkan instrumen kenong dalam jenis gendhing sampak, dimana pada tiap satu nada diisi dengan dau kali tabuhan atau pukulan kenong;

Gerak menyerang pada tari gaya Yogyakarta.

Niyaga. Penabuh gamelan (lihat gamelan) Jawa, sering pula disebut dengan pradangga atau wiyaga.

Nyamleng. Penyajian uyon-uyon terutama dengan menggunakan instrumen tabuhan ngarep (lihat tabuhan ngarep) dan vokal.

Nyigar penjalin. Bentuk dari bilahan saron dan gender yang bentuk penampangnya mirip rotan yang dibelah dua. Bentuk nyigar penjalin ini pada umumnya dipakai pada bilahan saron, sedangkan bilahan gender kuningan atau besi.

Ombak. Ombak suara.

Ombakan. Bentuk suatu lagu dari seorang dhalang dengan menggunakan upacara atau yang ditempatkan umumnya pada akhir dari suatu ada-ada.

Ombak banyu. Gerak peralihan yang terdapat pada tari putera halus dan gagah gaya Yogyakarta. Ombak berarti ‘ombak’ banyu, banyu berarti ‘air’. Gerak ini bernama ombak banyu karena pada waktu menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan selalu didahului dengan gerak ke atas seperti gerak ombak air. Gerak ini dipakai pada tari Lawung dan adegan-adegan penghadapan pada drama tari.

Ombak banyu wirama rangkep. Gerak ombak banyu (lihat ombak banyu) yang dilakukan dengan irama rangkap (rangkep) yaitu dua kali lebih lambat dari ombak banyu biasa. Gerak ini dipakai pada tari putera halus dan gagah gaya Yogyakarta seperti tari Lawung dan adegan-adegan penghadapan pada drama tari.

Ompak. Bagian dari gendhing (lihat gendhing) yang ada di muka sebelum gendhing pokok. Biasanya dibunyikan dua kali tetapi bisa pula diulang-ulang menurut kebutuhannya.

Ompak-ompak. Sama dengan embat (lihat pada embat). Istilah ini umum digunakan didaerah Yogyakarta.

Padhang rembulan. Instrumen yang berbentuk memakai pencu (lihat pencu), tetapi yang dibuta mengkilat hanya pada bagian pencu dan rai saja.

Paku. Alat yang digunakan untuk menahan supaya bilahan saron (lihat saron) tidak mudah bergeser ke kanan atau ke kiri.

Palenggahan. Kulit lembu sebesar ikat pinggang yang dipaku pada lawak kanan dan kiri untuk meletakkan kendhang agar bisa terletak seperti mengantung sehingga suaranya menjadi bening.

Pangkat ndhawah. Transisi dari gendhing (lihat gendhing) ke bagian ndhawah.

Pangkat minggah. Transisi dari gendhing (lihat gendhing) ke bagian minggah.

Pangkon. Tempat meletakkan bilahan jenis saron yang dibuat dari kayu yang bentuknya mirip koyak dengan bagian kanan kiri terdapat hiasan mirip gelung, pada bagian tengah terdapat semacam lubang berbentuk empat persegi panjang sebagai resonator. Pangkon ini mempunyai alas kaki, dan yang bagus dibuat dari kayu nangka.

Pangrawit. Sama dengan pradangga (lihat pradangga).

Panungul. Nama nada di dalam gamelan (lihat gamelan). Untuk pencatatannya biasa diganti dengan angka 1. Nada penunggul hanya terdapat pada gamelan laras pelog.

Papa rara. Orang yang belajar memainkan gamelan di mana orang tersebut sama sekali belum pernah mempelajari cara-cara memukul gamelan, sehingga pelajaran itu dimulai dari awal dan meliputi dasar-dasarnya.

Pasu. Bagian tepi rai (lihat rai) yang melengkung menghubungkan bagian rai dan bau pada jenis pencon.

Patalon. Rangkaian beberapa untuk gendhing yang dibunyikan sebelum pertunjukkan wayang dimulai. Untuk wayang di daerah Surakarta menggunakan rangakaian gendhing Patalon dimulai dari gendhing Cucurbawuk diteruskan Pareanom kemudian diteruskan lagi ladrang Srikaton dan Ketawang Sukmailang, Ayak-ayakan, Srepegan dan diakhiri dengan Sampak, semuanya pathet Manyura. Susunan tersebut untuk wayang kulit purwa.

Patapukan. Lihat wayang topeng.

Pathet. Menunjukkan tinggi rendahnya nada suatu lagu atau gendhing dan juga membatasi naik turunnya nada.

Pelemahan. Punggung dari jenis bilahan yang bagian tengah.

Pelog. Nama nada didalam gamelan (lihat gamelan). Untuk pencatatannya biasa diganti dengan angka 4, nada pelog hanya terdapat pada gamelanl aras pelog (lihat laras pelog).

Pemacu kandha. Juru baca (pemaca) teks ceritera (kandha) pada drama tari wayang wong gaya Yogyakarta. Juru baca ini duduk deretan terdepan. Bahasa Jawa Krama (tinggi, halus) untuk pemaca kandha (lihat pemaos kandha).

Pemangku lagu. Instrumen yang bertugas membawakan lagu pokok atau balungan (lihat balungan). Yang termasuk pemangku lagu ialah saron, demung, peking dan slenthem.

Pemangku irama. Instrumen yang bertugas menggunakan kendhang dalam bentuk gendhing (lihat gendhing) dan menunjukkan macam irama, yang termasuk pemangku irama ialah kethuik, kenong, kempul dan gong.

Pemurba irama. Instrumen yang memimpin atau menentukan lagu, instrumen yang bertuigas sebagai pemurba lagu ialah rebab, gender, dan bonang.

Pencon. (lagu pencu).

Pencu. Bagian yang menonjol berbentuk ½ bulat telur yang terletak pada bagian atas dari kenong, bonang, kethuk, kempyang, slentho, kempul, gong, bendhe.

Pengirit. Orang yang mempunyai jabatan memimpin sekelompok penabuh gamelan di Keraton.

Penitir. Instrumen pukul pada gamelan monggang (lihat gamelan monggang) bentuknya mirip dengan bonang tetapi agak besar sedikit, berjumlah 3 pencon (lihat pencu), disusun berderet di atas rancakan (lihat rancakan) dengan nada 1,6 dan dipukul oleh 3 orang.

Penonthong. Instrument pukul pada gamelan monggang (lihat gamelan monggang), bentuknya mirip dengan kenong tetapi agak kecil, jumlahnya 2 buah dengan nada 4 dan 7 (pelog dan barang).

Penthat. Bagian punggung dari bathokan (lihat bathokan).

Penyenther. Penari yang memimpin jalannya pertunjukkan pada tari Dhoger khususnya di daerah Gunung Kidul. Penari itu membawa aba-aba gendhing atau penari lainnya,sering juga berfungsi sebagai pawang (lihat pawang).

Pesindhen. Vokalis puteri, sering pula disebut waranggana.

Pethat. Tiruan sisir yang dibuat dari kulit kerbau atau sapi, ditatah diberi warna prada dan diberi hiasan ketep dan mote, dipasang pada bagian belakang irah-irahan ikat pada tepen (lihat tepen).

Pi. Singkatan dari pitu, yaitu nada tujuh atau dalam gamelan disebut barang.

Pidih. Bahan rias atau make-up pada wayang wong yang warnanya hitam. Fungsinya untuk memberi kejelasan pada bagian-bagian yang perlu diberi warna hitam.

Pilesan. Variasi kedua permainan kendhang batangan untuk irama 3.

Pindhah pathet. Transposisi.

Pindharsa. Tanjak (lihat tanjak) yang pertama pada akhir bagian merong (lihat merong) dari suatu lagu gamelan atau gendhing ( lihat gendhing).

Pipi. Bagian samping yang mencembung dari instrumen kemanak (lihat kemanak) tempat jatuhnya alat pemukul.

Pipilan. Dari kata pipil yatiu suatu pekerjaan mengambil sesuatu sedikit demi sedikit dilakukan secara kontinyu. Pipilan pada bonang dimaksudkan memukul satu persatu.

Placak. Tempat dudukan (penyangga) kendhang, berbentuk siku-siku kanan dan kiri diberi kulit mirip ikat pinggang sebagai penyangga bila kendhang diletakkan.

Plajaran. Bentuk gendhing dimana tiap-tiap balungan pokok disertai pukulan kenong yang genap disertai pukulan kempul.

2 2 2 1 3 2 1 2 balungan pokok

n n/p n/p n/p n/p n/p pukulan kenong (n) dan kempul (p).

Playon. (lihat plajaran).

Plesedan. Memukul kenong tidak sesuai dengan nada balungan (lihat balungan) dengan maksud untuk memberitahukan bahwa akan diganti variasi lagu yang telah diualang.

Ploncon.

Empat orang penari pada tari Lawung (lihat Lawung Ageng) gaya Yogyakarta yang bertugas sebagai pembawa lawung (tombak) yang akan dipergunakan untuk latihan perang oleh penari Jajar dan penari Lurah;

Gawang dengan kayu palang yang berlubang-lubang tempat menyimpan tegak beberapa tombak;

Kendhang Jawa yang belum diberi kulit, terbuat dari kayu yang berlubang di bagian tengahnya kanan dan kiri. Bahan ploncon yang baik adalah kayu nangka.

Pluntur. Tali untuk merentangkan bilah-bilah gender, slethem, boning, kenong, secara berjajar yang dibuat dari benang yang yang besarnya sekitar ½ cm dengan warna merah.

Pok pencu. Bagian pencu yang terbawah dibawah widheng ( lihat widheng).

Popor ndhuwur. Bagian dari rebab yang terletak di bawah watangan (lihat watangan) berbentuk bulat kerucut dengan garis tengah sekitar 5 cm dan berkerat-kerat. Popor ndhuwur ini merupakan tangkai rebab bagian atas yang menempel pada menthak (lihat menthak), yaitu alat resonator dari kayu atau tempurung.

Popor ngisor. Bentuknya mirip dengan popor ndhuwur (lihat popor ndhuwur) hanya letaknya persis dibawah menthak (lihat menthak) dan agak pendek sedikit dari popor ndhuwur.

Pucuk pencu. Bagian pencu yang teratas tempat jatuhnya tabuh bila sedang dipukul.

Pundhak mekar. Ragam gerak dengan lengan kiri ditekuk ke depan posisi tangan ngruji (lihat ngruji), diakhiri dengan gerak tangan kanan seperti, mengusap muka dengan posisi nyempurit (lihat nyempurit). Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta .

Carikan sekaten. Bentuk suatu lagu bonangan yang dibunyikan pada awal dari tiap gendhing sekaten (lihat gamelan sekaten).

Rai. Bagian permukaan dari jenis konang terletak di bawah pencu.

Rancakan. Tempat untuk meletakkan bilah-bilah saron, gender, bonang yang dibuat dari kayu. Umumnya digunakan dari kayu nangka dan jati.

Rangkep. Rangkap.

Rangkung. Penggosok rebab yang bentuknya mirip dengan busur yang dibuat dari jenis kayu kemuning. Rangkung juga disebut sengreng.

Rau. Lubang klowongan kendhang berbentuk cekung setengah lingkaran sebagai resonator, agar suara kendhang menjadi lebih bening.

Rebab. Alat gesek pada gamelan, berfungsi sebagai pembuka pada jenis gendhing-gendhing rebab. Mempunyai leher panjang yang terbuat dari kayu atau gading gajah, ujung leher ada dua semat (kupingan) suara untuk masing-masing kedua dawai (senar). Dibagian bawah merupakan badan rebab terbuat dari belahan tempurung atau kayu (menthak) dimana bagian muka ditutup dengan kulit tipis yang berfungsi sebagai resonator. Dawai rebab diganjal dengan semacam sisir dari kayu yang disebut (srenten). Selain sebagai pembuka juga berperan sebagai pengisi hiasan-hiasan pada lagu atau gendhing pokok yang dimainkan saron. Rebab digesek dengan pengesek yang dibuat dari kayu dengan rambut dari ekor kuda yang direntangkan oleh jari si pemain.

Rebab byur. Sama dengan rebab (lihat rebab). Pada gamelan yang lengkap terdapat dua rebab, byur dan phontang. Rebab byur dimainkan untuk gendhing pelog, rebab ponthang untuk gendhing slendro.

Recep. Bagian yang rata pada tepi samping instrumen kenong, diatas bagian bau.

Recap nglengkeh. Recap yang bentuknya lebih dicekungkan (lihat recap).

Recep pajeg. Recap yang bentuknya rata (lihat recep).

Rengeng-rengeng. Menyanyikan atau melagukan suatu tembang (lihat tembang) tetpai lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. Menyanyi atau melagukannya dengan pelan-pelan.

Rep. pergantian permainan gamelan dari pukulan keras menjadi pelan.

Risikan gamelan. Pembagian instrumen gamelan atas dasar golongan-golongannya.

Golongan yang dipukul (idiophone) meliputi jenis saron, gender, bonang, .

Golongan yang ditepak meliputi berbagai kendhang, (membrandphone).

Golongan yang dipetik (crodophone) siter dan clempung,

Golongan yang ditiup (aerophone) yaitu suling dan

Golongan yang digesek yaitu rebab.

Rijal. Instrumen pukul bentuknya mirip dengan bonang penerus (lihat bonang penerus) berjumlah 8 pencu (lihat pencu) dengan nada semua sama yaitu nada gulu atau 2, dipukul oleh 4 orang, merupakan kelengkapan instrumen gamelan monggang (lihat gamelan monggang).

Rinding. Nama instrumen, dibuat dari bambu dengan mulut sebagai resonator.

Rog-rog asem. Lamba (lihat lamba) yang terdapat di tengah-tengah gendhing (lihat gendhing), atau akhir dari gendhing. Rog-rog asem biasanya terdapat pada gendhing-gendhing gangsaran yang sering berganti-ganti iramanya.

Sak ulihan. Memainkan suatu gendhing dari permulaan sampai jatuhnya gong akhir dan kemudian kembali lagi ke permulaan. Bila diulang dua kali disebut rong ulihan.

Salah gumun. Memukul 2 buah nada yang melampaui 2 bilah dari nada yang bersangkutan terhadap accordnya sehingga menimbulkan paduan suara yang enak didengar.

Contoh :

3 – 6 : 6/3

5 – 1 : 1/5

Salisir. Suatu bentuk tembang untuk gerongan (lihat gerongan) yang terdiri atas 4 bait.

Samopa. Gamelan (lihat gamelan).

Sampak. Bentuk gendhing yang tiap-tiap balungan pokoknya disertai 2 pukulan kenong, pada pukulan kenong yang genap disertai pukulan kempul.

2 2 2 2 2 balungan pokok

n n/p n/p n/p n/p pukulan kenong (n) dan kempul (p).

Samya swara. Koor di dalam gerongan suatu gendhing dengan tanpa sindhenan (lihat sindhenan). Didalam dunia karawitan Jawa merupakan istilah baru terutama setelah berkembang karawitan yang dilakukan oleh pemukul gamelan dan penggerong (lihat gerong) yang dimainkan oleh anak-anak kecil.

Sanggan. Semacam paku yang bagian atasnya bercabang dua, digunakan untuk mengantungkan bilahan gender, slenthem, yang dibuat dari kuningan. Kepala sanggan yang bercabang dua itu tempat masuknya tali pluntur (lihat pluntur).

Santiswaran. Suatu bentuk lagu vokal yang mengambil dari gendhing Jawa dan slawatan dipadu sedemikian rupa sehingga merupakan suatu bentuk lagu tertentu, dengan iringan kendhang, jedhor, terbang, dan kemanak. Di dalam santiswaran ini kelihatan perpaduan antara rasa Islam dan Jawa.

Sapangkon. Sama dengan sarancak (lihat sarancak).

Saparangkat. Susunan gamelan yang lengkap, terdiri dari kelompok yang berlaras slendro dan pelog.

Saput. Salah satu benda istana (lihat ampilan dalem) seperti tempat dari segala macam alat, merupakan simbul dari kesiap siagaan.

Sarancak.

Sebutan untuk sebuah instrumen gamelan misalnya bonang sarancak, saron sarancak;

Untuk menyebutkan susunan gamelan yang lengkap tetapi hanya terdiri dari slendro atau pelog saja.

Sari swara. Notasi lagu atau titik laras (lihat titik laras) berdasar tonika.

Sari tunggal. Komposisi tari tunggal puteri gaya Yogyakarta yang merupakan susunan ragam-ragam beksa puteri (lihat beksa putri) atau tari puteri. Komposisi ini kebanyakan ditarikan dalam bentuk komposisi kelompok dan lebih banyak hanya untuk latihan.

Saron. Nama instrumen, bentuknya bilahan (lihat bilahan), fungsi saron untuk memainkan lagu pokok atau balungan (lihat balungan).

Saron demung. Nama instrumen dalam kelompok saron yang paling kecil bentuknya dengan paling tinggi oktafnya.

Saron ricik. Nama instrumen dalam kelompok saron yang beroktaf sedang dan sering pula disebut dengan saron barung.

Sekar. Ornamen didalam tembang (lihat tembang) atau gamelan (lihat gamelan).

Sekardlima. Nama instrumen, terdapat pada gamelan kodhok ngorek, terdiri beberapa bel (kelithing) yang dirangkai menjadi beberapa kelompok dan digantungkan pada sebuah tiang.

Sekar gendhing. Tembang (lihat tembang) yang diiringi dengan bunyi gamelan (lihat gamelan), biasanya dalam bentuk ladrang atau ketawang.

Sekar medura. Komposisi tari kelompok berpasangan gaya Yogyakarta yang dibawakan oleh 8 orang penari pria yang dicipta oleh Sultan Hamengku Buwana I pada abad-18. tari ini merupakan upacara bergembira yang diakhiri dengan minum minuman keras yang dituangkan dalam botol ke dalam gelas. Karena itu tari ini juga disebut Beksan gendul. Gendul berarti ‘botol’. Nama Sekar Medura konon untuk menghormat pasukan Kesultanan Yogyakarta yang mendapat bantuan dari orang-orang Medura. Penari yang berjumlah 8 dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari 4 penari yang menari dengan tipe tari puteri halus, kelompok kedua terdiri dari 4 penari yang menari dengan tipe tari seorang Batak (pemimpin) dan 3 orang endhel (pengikut).

Sekati. Nama seperangkat gamelan pusaka Keraton Surakarta dan Yogyakarta. Dibunyikan pada setiap tanggal 5 sd 12 bulan maulud untuk menghormati peringatan lahir dan wafat Nabi Muhammad S.A.W, termasuk jenis gamelan pakurmatan (penghormatan), berlaras pelog. Gamelan sekati ini dibunyikan di dua bangunan terletak di dalam halaman Masjid Ageng. Gamelan Sekati Keraton Surakarta bernama kanjeng Kyai Gunturmadu pusaka dari Majapahit dan Guntursari dibuat pada jaman Pakubuwana IV, di Yogyakarta bernama Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Gunturmadu yang dibuat keduanya pada jaman Sultan Hamengku Buwana I.

Seleh. Tempat berhentinya suatu lagu didalam tembang atau suatu gendhing.

Semeleh. Akhir bait.

Sendhon. Lagu dari seorang dhalang yang diambil dari sekar ageng atau tembang, yang diiringi dengan gender, gambang, dan suling. Sebagai contoh misalnya dalam menggambarkan suasana sedih dengan diiringi dengan sendhon tlutur, ini umumnya suasana sedih dengan diiringi dengan gaya Surakarta. Di Yogyakarta untuk lagu suasana sedih selain instrumen tersebut diatas masih ditambah dengan rebab.

Senggakan. Suara aransemen vokal untuk mengisi kekosongan pada sela-sela vokal.

Senggaren. (lihat kosok).

Seseg. Irama cepat.

Sesegan. Suatu bentuk lagu yang khusus digunakan hanya untuk irama seseg (cepat) saja. Bagian ini merupakan bentuk yang tersendiri, bila tidak irama sesegan tidak dipukul.

Seser. Benag berbentuk cincin yang dikaitkan kepada kedua dawai rebab agar supaya eneng (lihat eneng) tidak jatuh ada suara rebab menjadi lebih nyaring dan halus. Seser ini letaknya dibawah srenten (lihat srenten).

Sindhenan. Lagu yang biasanya dinyanyikan oleh pesindhen (pesindhen).

Singgetan. Transisi atau perpindahan.

Singir. (lihat modring).

Sirig. Nama instrumen, golongan instrumen petik.

Siteran. Susunan instrumen gamelan yang terdiri dari siter barung, siter penerus, siter peking, siter penembung, kendhang ciblon kecil, dan gong bumbung. Sebelum itu sering gong bumbung diganti dengan gong gendul (botol bekas minuman keras).

Siter peking. Nama instrument, golongan instrumen petik. Nada-nadanya 1 oktaf lebih tinggi daripada siter (lihat siter).

Siyak. Isyarat dari dhalang atau kendhang untuk membuat suatu gendhing dari irama lambat menjadi cepat, dan kemudian melambat kembali, dimana yang berbunyi hanya instrumen rebab, gender, kendhang, slethem dan gong.

Slenthem. Nama instrumen bentuknya seperti gender penembung tetapi pada bilahannya memakai pencu (lihat pencu).

Slentho. Nama instrumen bentuknya seperti demung tetapi memakai pencu.

Slepengan. Bentuk gendhing dimana tiap-tiap 2 balungan pokok disertai pukulan kenong, pada pukulan kenong yang genap disertai pukulan ke kempul, sedangkan pada balungan pokok yang gasal disertai pukulan (kethuk).

3 5 2 3 5 6 5 3 balungan pokok t n t n/p t n t/n t n/p pukulan kethuk (t), kenong (n) dan kempul (p).

Soran. Penyajian gendhing-gendhing (lihat gendhing) dengan sora atau keras, biasanya instrumen gender, gambang dan rebab tidak dibunyikan.

Sorogan. Bilahan gambang atau gender yang digunakan untuk menggantikan bilahan yang lain, sehingga terjadi perubahan laras. Umumnya dari laras pelog pathet lima atau nem beralih ke pelog pathet barang. Cara dengan jalan sorogan ini pada dasarnya dikarenakan instrumen gambang atau gender itu tidak lengkap, dimana seharusnya untuk masing-masing pathet harus mempunyai instrumen gambang atau gender tersendiri sehingga terdapat satu gambang atau gender berlaras pelog lima atau nem dan satu lagi berlaras pelog barang.

Srambahan.

Tehnik memainkan kendhang dimana lagunya hanya dimainkan sekali sesudah buka (lihat buka). Srambahan ini terdapat pada jenis kendhangan bentuk gendhing lancaran, ketawang.

Di dalam sulukan (lihat suluk) berarti lagu dari suluk tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam adegan atau suasana dalam adegan atau suasana dalam adegan wayang.

Srenten. Kayu tipis dengan kaki yang memanjang horisontal kurang lebih 14 cm, dibagian tengah terdapat semacam leher dengan kepala berbentuk semacam jajaran gendjang dan terdapat dua kerat pada bagian tengah empat meletakkan dawai. Srenten ini sebagai alat penyangga dawai yang dipasang pada tilam (lihat tilam) yaitu alat resonator pada rebab.

Srokal. Mondring (lihat mondring) yang berisi tentang kisah kelahiran Nabi Muhammad.

Suluk. Bentuk lagu dari seorang dhalang yang biasanya diambil dari Sekar Ageng atau tembang macapat, dengan iringan instrumen rebab, gender, gambang dan suling, di Yogyakarta disebut lagon.

Suwekan. Tutup pada bagian atas bumbungan yang berlubang pada tengahnya, besar kecilnya lubang ini disesuaikan dengan nada bilahan. Pada nada yang besar lubang ini makin kecil pada nada kecil lubang ini makin besar. Lubang inilah yang disebut suwekan.

Suwuk. Berhenti.

Suwukan.

Nama gong kecil dengan ukuran garis tengah sekitar 60-70 cm, biasa untuk jatuhnya gong pada gendhing jenis lancaran (lihat lancaran) yang ditabuh bergantian dengan kempul dan gong ageng;

Salah satu bentuk lagu yang hanya dilalui bila akan suwuk saja (lihat suwuk). Tidak semua gendhing mempunyai bentuk suwukan tilah ini untuk gaya Surakarta.

Suwuk gropak. Isyarat untuk berhenti dengan irama yang cepat sekali. Biasanya digunakan pada bentuk gendhing iringan wayang bilamana mengiringi adegan raksasa.

Swara nyorog. Suara dari seorang yang sedang melagukan satu lagu atau tembang dimana untuk nada suara yang tinggi karena tidak tercapai sehingga menyambungnya dengan suara sorogan. Umumnya dilakukan oleh para pesindhen (lihat pesindhen).

Tabuh. Alat pemukul gamelan.

Tabuhan. Tehnik memukul gamelan.

Tabuhan ngajeng. Kelompok instrumen gamelan yang terdiri dari rebab, gender barung, gender penerus, gambang, clempung, suling.

Tabuhan rampak. Tehnik memainkan keseluruhan instrumen gamelan, dimana seluruh instrumen dapat terdengar harmonis satu dengan yang lain tidak saling menonjol.

Tabuhan tengah. Kelompok instrumen gamelan yang terdiri dari dari demung, saron penerus, peking, kethuk, kempyang, engkuk kemong, kenong, kempul, dan gong.

Tambak sampur. Sampur (lihat sampur) sebelah kanan dan kiri yang disampirkan pada bahu sebelah kanan dan kiri pula, tetapi masih dipegang dengan tangan kanan dan kiri.

Tambang sampur. Sampur (lihat sampur) sebelah kanan ditumpangkan pada bahu sebelah kiri, sedang sampur sebelah kiri ditumpangkan pada bahu sebelah kanan.

Tampi. Niaga (lihat niaga) yang mendapat tugas untuk menabuh gamelan (lihat gamelan).

Tanggep anerangbaya. Suatu cara untuk mengajar keterlambatan irama dengan jalan langkah memotong irama tersebut dan menjatuhkan kaki pada irama kenong atau gong.

Tanggap raras. Langkah mundur dari salah satu kaki untuk menyesuaikan tempat agar tepat seperti yang dimaksudkan.

Tanggap sawega. Sikap menahan letak kaki pada saat sebelum tanjak (lihat tanjak) pada irama kenong atau gong.

Tanggap sudira. Sama dengan hadilaga (lihat hadilaga).

Tanjak harsaya. Tanjak (lihat tanjak) yang tepat jatuh pada irama kenong (lihat kenong).

Tapak jalak. Gerakkan di dalam tarian Dhoger di daerah Gunung kidul, yang mengambil dari gerakan pencak silat. Disebut tapak jalak karena posisi gerakan tangan ini mirip tapak (bekas injakan) kaki burung jalak.

Tawonan. Rotan yang dianyam berbentuk bujur sangkar dengan ukuran kurang lebih 5 x 5 cm, tebal kira-kira 3 cm, digunakan sebagai alas bilahan saron, dan dipegang di atas rancakan diberi pengancing paku agar tidak terlepas.

Tebokan bem. Kait lembu atau kijang yang berbentuk bulat digunakan untuk menutupi jenis kepala kendhang di bagian yang besar. Tebokan bem ini untuk jenis kendhang ciblon bergaris tegak sekitar 35 sampai 40 cm, jenis kendhang ketipung garis tengahnya lebih kecil lagi, sedang jenis kendhang gendhing atau kendhang ageng garis tengahnya mencapai 60 sampai 75 cm.

Tebokan kemyang. Fungsinya sama dengan tebokan bem (lihat tebokan bem), hanya ukurannya lebih kecil yaitu sekitar 25 sampai 27 cm dipasang pada kepala kendhang kecil.

Teka njejak. Seorang dhalang yang dipanggil untuk mendhalang, dimana oleh yang memanggilnya telah disediakan segala perlengkapan untuk pertunjukkan wayang, baik wayang beserta gamelan dan penabuhnya.

Thelengan. Cara merias bagian mata (lihat gabahan) untuk karakter-karakter gagah yang mempunyai ragam tari kambeng (lihat kambeng), seperti Bima, Gathutkaca, Antareja dan lain sebagainya.

Tembang. Nyanyian Jawa.

Terbang. Rebana.

Thetheg. Nama instrumen, bentuknya seperti bedhug tetapi lebih kecil.

Tilam. Kulit lapis sebagai membram yang dilekatkan merentang pada menthak (lihat menthak).

Timang. Pengecang kamus (lihat kamus) juga berfungsi sebagai hiasan pada tari Jawa. Timang terbuat dari logam, biasanya diberi permata.

Tindhih. Orang yang bertugas memimpin gamelan di dalam suatu pergelaran gamelan di dalam Keraton.

Titir. Suara yang terus menerus.

Tledhak-tledhuk. Tehnik memainkan gender, di mana cara membawakan melodi-melodi gender seakan-akan agak lambat, tetapi pada jatuhnya akhir dari bait suatu lagu dapat tepat kedengaran enak.

Tluntur. Bentuk lagu, tembang, gendhing yang mengandung rasa sedih.

Tudung. (lihat suling).

Tumbuk laras. Dua perangkat gamelan yang berlaras slendro dan pelog dimana ada salah satu nadanya yang sama laras suaranya antara nada pada laras slendro dan nada pada laras pelog. Pada umumnya pada yang sama larasnya itu pada nada nem atau lima atau dua. Untuk gamelan di daerah Surakarta umumnya banyak yang tumbuk laras nem, sedang di Yogyakarta tumbuk laras lima atau bem (lihat bem).

Tumbuk nem. Nada nem yang terdapat pada urutan nada pada gamelan laras slendro sama laras suaranya dengan nada nem pada gamelan laras pelog.

Tunggal rasa. Jenis tabuhan kenong di pisah mana tempat jatuhnya kenong pada titilaras, memilih atau menggunakan kenong yang laras suaranya sama dengan laras suara yang ditabuh oleh balungan (lihat balungan), umpamanya balungan jatuh pada laras suara lima maka kenong juga memukul nada lima.

Tunjung. Semacam tangkai yang terletak di bagian bawah dari rebab, berfungsi sebagai alas kaki, bentuknya meteng yaitu di bagian atas mengecil kemudian dibagian tengah mencembung dan bagian bawah mengecil kembali dan terdapat bulatan pipih sebagai alas dasar dari rebab.

Tutupan rebab. Tata jari di dalam tehnik memainkan rebab. Tutupan ini dilakukan dengan jari kiri yang ditekankan sedemikian rupa pada dawai (senar) rebab.

Tutupan suling. Tehnik jari dalam menutup lubang suling untuk memberi nada yang sedang dimainkan.

Tuturan. Memukul kenong yang tidak sesuai dengan nada balungan tetapi pada nada yang sedang dimainkan.

Tuturan. Memukul kenong yang tidak sesuai dengan nada balungan tetapi pada nada kempyung atas.

Ukel pancat. Tehnik memainkan gender dengan sudah banyak variasinya dan sudah mulai lincah umumnya digunakan dalam bentuk ingah (lihat ingah).

Ukur sanak. Melaras gamelan (lihat nglaras) hanya dengan mengandalkan pendengaran si pelaras gamelan saja tanpa alat pengukur nada atau garpu tala. Cara melaras gamelan semacam ini sudah dilakukan oleh para gendhing (tukang pembuat dan pelaras gamelan) sejak dari dahulu sampai sekarang.

Ulem. Istilah untuk menyebut suara yang empuk, baik untuk suara orang maupun suara gamelan.

Ulihan. Bagian terakhir dari pedotan (lihat pedotan).

Umbaran. Menggosok rebab dengan tanpa jari tangan kiri, gunanya untuk mengetahui apakah laras kedua dawainya telah cocok dengan nada yang dikehendaki. Misalnya untuk laras slendro dengan nada dua dan nem (ro lan nem).

Ura-ura. (lihat nembang).

Uran-uran. Ura-ura yang diiringi beberapa instrumen gamelan (lihat gamelan dan ura-ura) yaitu gender, gambang, kenong, kempul,gong, dan kendhang. Uran-uran sering pula disebut dengan rambangan.

Uyon-uyon. Pagelaran atau penyajian gendhing-gendhing (lihat gendhing) Jawa.

Waditra. Gamelan (lihat gamelan).

Waranggana. (lihat pesindhen).

Watangan. Bagian dari instrumen rebab tempat untuk pegangan, letaknya diatas menthak (lihat menthak). Watangan ini bentuknya bulat, pada bagian atas kecil dan bagian bawah mencembung.

Wayang. Arti luasnya seni pertunjukan, baik yang dipertunjukkan dengan boneka maupun yang dibawakan oleh manusia, misalnya wayang kulit, wayang golek, wayang wong, dan pula wayang putih. Arti sempitnya ialah 1 boneka dari kulit dalam pertunjukan wayang kulit, 2. penari dalam drama tari Jawa berdialog prosa lirik yang disebut wayang wong.

Wayuh. Sama dengan tumbuk laras (lihat tumbuk laras), istilah untuk daerah Yogyakarta.

Wayuh Jangga. Sama dengan wayuh nem (lihat wayuh nem), hanya disini yang sama laras suaranya adalah nada jangga dua. Istilah untuk daerah Yogyakarta.

Wayuh nem. Sama dengan tumbuk nem (lihat tumbuk nem), istilah untuk daerah Yogyakarta.

Wengku. Bambu yang dibelah kecil kira-kira separo jari kelingking berbentuk bulat pipih. Sedangkan ukuran bulatan wengku ini tergantung pada besar kecilnya tebokan.

Widheng.

Semacam goresan yang melengkung mengelilingi dasar pencu (lihat pencu). Umumnya dasar pencu yang memakai widheng ini terdapat pada gamelan buatan lama. Menurut beberapa pembuat gamelan kegunaan dari widheng ini selain bentuk pencu menjadi lebih bagus juga suaranya tambah bening;

Rias godheg yang ditambah dengan hiasan atau gambaran relung-relung seperti ukel, atau seperti dahan yang melengkung.

Wilahan. Bilah gamelan.

Wilambitalaya. Tempo lambat.

Wiled. Susunan ritmik dan melodik dari nada-nada di dalam pengolahan cengkok (lihat cengkok).

Wirama dados. Sama dengan wirama kalih (lihat wirama kalih). Istilah untuk daerah Yogyakarta.

Wirama mulur. Sama dengan wirama wiled (lihat wirama wiled). Istilah ini umum digunakan dikalangan penabuh di daerah Yogyakarta.

Wirama papat. Sama dengan wirama wiled rangkep (lihat wirama wiled rangkep).

Wirama telu. Sama dengan wirama wiled (lihat wirama wiled).

Wirama wiled. Suatu bentuk irama dimana di dalam suatu pukulan demung, saron peking dapat memukul dengan 8 kali pukulan.

Wiraswara. (lihat kanca gerong).

Wiyaga. (lihat niyaga).

Wiyaga. Orang yang bekerjanya sebagai pemukul gamelan. Istilah daerah Yogyakarta.

Wudahar. Dimainkan secara keras atau cresscendo.

Wudelan. Bagian bawah dari bilahan saron yang meleleh akibat dari pembuatan luang untuk paku (lihat paku). Wudelan ini biasanya terdapat pada gamelan yang kuno, karena cara pembuatan lubang pada waktu dulu tidak dengan jalan dibor tetapi dengan jalan dipanasi (cor).

Yaga. Orang yang kerjanya sebagai pemukul gamelan. Istilah ini umum dipakai di daerah Yogyakarta.

Remaca Kandha. Sebutan untuk dhalang (lihat dhalang) dalam pentas wayang wong, yang muncul pada zaman Hamengku Buwana VI. Disebut juga pemaos kandha atau pembaca ceritera pada menjelang pertunjukkan.

Nggrudha. Disebut juga ngeceng encot yaitu pola gerak dasar untuk tari puteri gaya Yogyakarta. Pola gerak dasar ini berbentuk tekukan lengan bawah ke depan yang simetris dengan level rendah seperti sayap burung Garuda, serta dibarengi oleh gerak kaki encot. Pola lengan yang simetris yang dilakukan dengan sedikit ditegangkan (ngeceng) serta dengan posisi tungkai dan kaki tertutup ini memberi kesan sifat kewanitaan yang tidak banyak tingkah. Apabila akan dibedakan antara wanita yang lemah lembut dengan yang agak dinamis digunakan ekspresi dan arah tatap muka branyak (memandang ke depan). Perbedaan antara karakter yang rendah hati dengan yang aktif atau agresif dapat dilihat lewat tata rias, arah pandangan muka ke bawah dan berbicara, karakter puteri rendah hati (luruh) mengarahkan pandangannya diagonal ke bawah dan berbicara dengan nada suara tengah (pada nada suara 2) serta monotonal (misalnya Sumbadra dan Sinta). Adapun karakter puteri yang katif atau agresif (branyak) mengarahkan pandangannya sedikit lurus ke depan serta berbicara dengan nada tengah sedikit agak tinggi (nada 3) serta agak melodis (misalnya Srikandhi dan Larasati). Sifat kelembutan peranan puteri terungkap pula pada kualitas geraknya yang mengalir (legato) dengan tempo lambat.

Surcelli, Gendhing. Gendhing pertama yang disajikan pada pertunjukkan barangan prajurit Keraton Yogyakart. Gendhing ini pada zaman dahulu digunakan untuk penghormatan besar, misal penghormatan kepada Sultan. Digunakan gendhing ini pada awal penyajian ditafsir sebagai penghormatan kepada tuan rumah yang dikunjungi prajurit yang sedang mbarang tersebut, karena gendhing ini pada zaman dahulu digunakan sebagai penghormatan besar.

Kokis-kokis, Gendhing. Gendhing kedua yang disajikan pertunjukan barangan (lihat Barangan Prajurit Keraton Yogyakarta). Istilah kokis-kokis itu sendiri artinya makanan sejenis apem. Istilah kokis-kokis dalam konteks ini digunakan untuk menyindir sikap ragu-ragu patih, putra mahkota, dan pimpinan prajurit, tiga kelompok yang berkedudukan sebagai bangsawan terkemuka di Keraton yang mengetahui penjajahan Belanda di Jawa tetapi tidak memberikan reaksi apa-apa. Sikap ragu-ragu juga dilambangkan melalui melodi, gendhing “kokis-kokis” terdiri dari dua kalimat lagu atau frase lagu; frase pertama dimainkan sekali kemudian frase tiga kali dan di akhir dengan frase pertema lagi. Berulang-ulangnya melodi ditengah memberikan kesan terombang-ambing seperti bentuk makanan kokis-kokis (bulat).

Balo-balo, Gendhing. Gendhing ketiga pada pertunjukan barangan (lihat Barangan Prajurit Keraton Yogyakarta). Balo artinya kurang tanak, mogol (belum masak), bodoh. Dalam konteks ini istilah balo-balo digunakan untuk mengkritik sikap patih, pimpinan prajurit, dan putera mahkota yang ragu itu sebagai tindakan atau sikap yag bodoh, belum dewasa, belum dapat mengambil sikap.

Balo Keling, Gendhing. Gendhing keempat pada pertunjukkan barangan (lihat Barangan Prajurit Keraton Yogyakarta) balo artinya bodoh, sedangkan keling artinya merapatkan. Dalam konteks ini istilah keling berarti merapatkan. Pendirian ragu-ragu itu harus dirapatkan, dipaksakan, dikeling agar mempunyai pendirian atau keberpihakkan keling dapat diartikan sebagai pemaksaan menghilangkan sikap ragu-ragu.

Thinthing Gundha, Gendhing. Gendhing kelima pada pertunjukkan barangan (lihat Barangan Prajurit Keraton Yogyakarta). Istilah thinthing dalam gamelan Jawa digunakan untuk menyesuaikan dua nada. Dalam konteks ini istilah thinthing dapat juga berarti di-takoni keantepane, ditanya kesetiaan atau keberpihakannya kepada siapa. Untuk istilah gundha artinya tumbuh-tumbuhan disawah (yang khas), yang dalam penggunaannya dapat juga digunakan untuk menyebut tanaman yang sudah masak. Dengan mengacu pada penafsiran istilah thinthing dan gundha “adalah melambangkan pernyataan terhadap pendirian patih, pimpinan prajurit dan putra mahkota yang usianya dewasa agar mau menentukan sikapnya”. Ini merupakan himbauan raja kepada ketiga bangsawan tersebut.

Roro Tangis, Gendhing. Gendhing keenam pada pertunjukan barangan (lihat Barangan Prajurit Keraton Yogyakarta). Roro artinya gadis, sedangkan tangis artinya sedih, susah. Gendhing ini biasanya digunakan untuk mengiringi langkah prajurit yang mengawal jenazah bangsawan Keraton Kesultanan Yogyakarta. Dalam konteks ini gendhing “Roro Tangis” digunakan untuk menggambarkan kesedihan raja melihat penjajahan yang telah berlangsung lama, tetapi para bangsawan Keraton tidak ada yang mengusirnya.

Rangket, Gendhing. Gendhing ketujuh pertunjukan barangan (lihat Barangan Prajurit Keraton Yogyakarta). Istilah rangket dalam bahasa Jawa artinya mengikat tangan seseorang dengan tali. Dalam konteks ini istilah rangket dapat ditafsirkan sebagai pesan raja kepada tiga bangsawan yang telah disebut untuk merangket Belanda, ikatlah Belanda yang telah lama menjajah ini.

About arifnurhidayat97
jagoar and rahasia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

FoxieSite

Hanyalah sebuah situs kecil yang bermakna

Dhantelo's Blog

Semuanya Ada Disini..

felindaerinoka

Just another WordPress.com site

Sippirilli's Blog

Just another WordPress.com weblog

chaicharisma

Just another WordPress.com site

Hanifa_13_17

Don't give up.

"Welcome to My Blog"

hidup masivers

Welcome to koprata blog

Just another WordPress.com site

Welcome to Gema's blog

Just another WordPress.com site

FARID SHARE

Just my simple share

Hi ! Welcome to my site :)

Just another WordPress.com site

σοφός blog "gaming PC"

Just another WordPress.com site

PlayKPOP

Hope You Can Find Something You Looking For

Mixxedtape

On finding joy, peace, balance and confidence

Maninblue1947's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Written on the Wind

Dancing Clouds...Sleeping Moon

Free Web Service

Free Web Service - All For Free

Real News World Wide

News World Wide, Real News Worldwide, News World Wide, Verified News, Infowars.com, realnewsworldwide.com, world news, headline news, best news

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: